
Fluff Writing – Kenapa Seorang Penulis Harus Menghindari Ini?

Seorang penulis, siapapun dia, pasti gak akan pernah lepas dari satu hal – kesalahan. Mau yang senior, mau yang baru merintis – semuanya mungkin banget buat salah.
Kesalahan seorang penulis itu bisa beragam. Salah satunya adalah fluff writing.
Artikel ini akan membantumu untuk tahu fluff writing secara lengkap – mulai dari pengertian, kenapa kita bisa ngelakuin kesalahan tersebut, kenapa harus dihindari, dan cara menghindarinya.
Kalau kamu mau upgrade skill menulis, yuk simak artikel ini sampai selesai!
Apa Itu Fluff Writing
Fluff writing adalah ketika seorang penulis nambahin kata-kata yang gak diperlukan ataupun pembahasan yang gak relevan dalam suatu tulisan.
Kenapa Kita Bisa Ngelakuin Fluff Writing?
Ada beberapa penyebab kenapa seorang penulis bisa ngelakuin fluff writing, antara lain:
1. Tuntutan Jumlah Kata
Ini adalah penyebab paling sering kenapa seorang penulis ngelakuin fluff writing – terutama yang freelance.
Tuntutan jumlah kata minimum itu umum banget terjadi di freelance writer karena rate card tergantung sama jumlah kata yang dipesan.
Jadi, ketika ada artikel yang pembahasannya gak terlalu panjang tapi belum sampai jumlah kata minimal – writer pun akan nambahin kata-kata “pemanis” agar jumlah kata minimal tercapai.
2. Kurang Riset
Nyambung dari poin pertama – salah satu penyebab kenapa jumlah kata minimal belum tercapai bisa juga karena riset materi yang kurang – sehingga writer kekurangan topik saat menulis.
Kondisi inilah yang bikin writer justru nambah kata-kata “pemanis” agar mencapai jumlah kata minimal.
3. Gaya Penulisan yang Terlalu Bertele-tele
Penulis yang belum cukup punya pengalaman biasanya punya gaya penulisan yang bertele-tele.
4. Menerapkan “Menulis seperti Bicara”
Salah satu cara terbaik bikin tulisan yang enak dibaca dan komunikatif adalah dengan nerapin prinsip “menulis seperti bicara”.
Apalagi, kalau masih bikin draf pertama dari sebuah tulisan – fluff writing justru sangat mungkin terjadi.
Kenapa Fluff Writing Harus Kamu Hindari?
Simpelnya, seorang penulis harus menghindari fluff writing karena itu akan berpengaruh buruk ke pengalaman pembaca dan SEO (khususnya, GEO).
Tulisan yang terlalu bertele-tele bikin tulisanmu lebih susah dicerna, sehingga bikin pembaca bingung dan bosan.
Apalagi, zaman sekarang attention span pembaca itu pendek banget. Kalau kamu gak bisa ngasi mereka jawaban dengan cepat, mereka langsung pergi dari tulisanmu.
Secara gak langsung, hal ini juga bisa ningkatin bounce rate dan risiko pogo sticking – tentu nantinya akan ngasi efek negatif ke SEO.
Lalu, dari segi generative engine optimization (GEO) pun juga negatif.
Prinsipnya, GEO itu suka banget sama konten yang gak cuma berkualitas, tapi juga to the point dan bisa ngasi jawaban cepat – hal yang gak bakal kamu temuin di artikel yang banyak fluff writingnya.
Cara Menghindari Fluff Writing
Berikut adalah beberapa cara menghindari fluff writing, apa saja?
1. Buat Brief sebelum Nulis
Salah satu penyebab fluff writing adalah karena kurang riset. Jadi, sebaiknya kamu bikin brief artikel dulu sebelum nulis.
Kamu bisa tentuin dulu apa saja yang mau kamu tulis di artikel dan cari referensinya. Jadi, kamu tinggal berpedoman pada brief saat nulis.
Ini ngebantu kamu agar tahu mau nulis apa dan mengurangi risiko out of topic.
2. Biasakan Nulis secara To The Point
Nerapin prinsip “menuis seperti bicara” memang bagus, direkomendasikan malah. Tapi, biasakan juga untuk nulis secara to the point – apalagi kalau sudah nulis isi artikel.
3. Edit Tulisan
Draf pertama tulisan itu biasanya memang kurang bagus dan banyak fluff writing.
Gak masalah kok, tulisanmu bisa diedit sebelum tayang – bisa lewat self editing ataupun dengan bantuan editor khusus.
4. Banyak Berlatih
Cara terakhir yaitu dengan banyak berlatih. Makin terbiasa kamu nulis dengan gaya conversational tapi to the point, makin kecil pula risiko fluff writing terjadi.
Buat Tulisan yang Singkat, Padat, Jelas
Fluff writing adalah salah satu kesalahan yang dilakukan oleh seorang penulis – baik senior ataupun junior, semua pernah melakukannya.
Kamu perlu mencegah kesalahan seperti ini agar tulisanmu berkualitas di mata pembaca dan juga SEO.
Caranya? Mulai dari bikin brief artikel yang lengkap, edit tulisan, sampai rajin menulis.
Yuk, biasakan buat tulisan yang singkat, padat, dan jelas!
Frequently Asked Questions (FAQ)
Apa itu fluff writing?
Fluff writing adalah gaya menulis dengan menambahkan kata, kalimat, atau pembahasan yang sebenarnya tidak perlu dan tidak relevan, hanya untuk membuat tulisan terlihat lebih panjang.
Kenapa penulis sering melakukan fluff writing?
Tuntutan jumlah kata dari klien/platform, kurang riset, gaya menulis yang terlalu bertele-tele, hingga menerapkan “menulis seperti bicara”.
Kenapa fluff writing harus dihindari?
Bisa bikin tulisan susah dipahami, bikin pembaca bosan, hingga buruk untuk SEO.
Gimana cara menghindari fluff writing?
Buat brief sebelum nulis, biasakan nulis to the point, lakukan editing sebelum publish, dan banyak berlatih
Apakah semua penulis pasti pernah melakukan fluff writing?
Ya, baik penulis senior maupun pemula pasti pernah melakukannya. Bedanya, penulis yang berpengalaman biasanya lebih cepat sadar dan tahu cara mengatasinya.
Referensi
https://contentwriters.com/blog/avoiding-fluff-in-writing
https://www.elevenwriting.com/blog/fluff-writing


