Content Decay – Biang Kerok yang Bikin Kontenmu Tenggelam?

Pernah gak kamu punya konten di website yang dulu perform banget – ranking tinggi, banyak clicks, bahkan jadi tulang punggung metriks website – tapi sekarang, sepi total?

Gak ada peringatan dari Google, tapi metriksnya jelas turun setiap bulannya – perlahan tapi pasti. Makin lama, makin parah.

Kalau iya, bisa jadi websitemu lagi ngalamin yang namanya content decay.

Fenomena ini sering banget terjadi di banyak website – bahkan website besar dan authoritative sekalipun bisa kena content decay!

Sayangnya, banyak digital marketer dan SEO specialist baru sadar setelah metriksnya “terjun bebas”.

Tapi kenapa ya? Apa sih yang bikin sebuah konten jadi “decay”?

Nah, di artikel ini kita bakal kupas tuntas tentang content decay – dari pengertian, penyebab, cara identifikasi, dan gak lupa cara ngatasinnya – biar kontenmu bangkit lagi.

Gimana? Sudah siap?

Apa Itu Content Decay?

Content decay adalah peristiwa saat konten mengalami penurunan performa secara konsisten dan terus-menerus. Padahal, dulunya punya performa yang bagus dan bisa ngasi banyak traffic ke website.

Mungkin kamu sempat ngebayangin kalau content decay cuma bisa dialami oleh konten musiman. Tapi, kejadian ini juga bisa terjadi pada konten evergreen.

Kenapa Konten Bisa Mengalami “Decay”?

Sebuah konten bisa mengalami “decay” karena berbagai faktor. Misalnya:

  • Konten sudah lama gak ada update – jadinya isi artikel gak terlalu relevan dengan kondisi sekarang.
  • Tren audiens berubah – artikel yang dulunya populer, sekarang topiknya sudah gak menarik lagi.
  • Perubahan algoritma – makin ke sini, artikel dituntut bisa lebih bermanfaat buat audiens. Jadi, artikel yang dibuat pakai cara lama bakal tenggelam.
  • Masalah di technical – artikel yang loadingnya lambat, ada dead links, dan sebagainya, bisa bikin performa artikel tersebut menurun.

Nah, masalahnya – ada beberapa kasus di mana artikel yang mengalami “decay” justru yang selama ini ngasi traffic paling banyak ke website.

Yang bikin makin parah – banyak digital marketer maupun SEO specialist yang telat sadar kalau kontennya sudah mulai mengalami “decay”.

Alasannya? Banyak yang ngira kalau penurunan traffic di awal terjadi karena penurunan ranking ataupun tren yang terjadi sementara.

Belum lagi kerjaan digital marketer dan SEO specialist itu cukup banyak – sehingga gak ngeh kalau ada artikel yang decay. Apalagi, kalau yang dimanage website besar.

Jadinya, mereka baru sadar pas traffic website mereka turun terus dan artikel tersebut performanya sudah benar-benar drop.

Ya, cari tahu tanda-tanda content decay emang gak segampang itu. Tapi, bukan berarti mustahil dilakukan.

Nah, gimana caranya?

Cara Identifikasi Content Decay

Audit konten adalah cara yang bisa kamu lakukan buat identifikasi content decay di websitemu.

Kamu bisa fokus ke artikel yang performanya nurun selama 6-12 bulan terakhir. Ini adalah data yang bisa kamu kumpulin selama audit konten:

  • Performa traffic.
  • Engagement metrics bounce rate dan average time on page (ini bisa kamu cek di GA4).
  • Ranking.
  • Evaluasi search intent dari topik artikel yang sedang kamu audit.

Lalu, ada juga informasi pendukung seperti:

Oke, setelah kamu punya semua informasi di atas, sekarang waktunya buat perbaiki artikel yang performanya nurun.

Penasaran gimana caranya?

Gimana Cara Mengatasi Content Decay di Website?

Berikut adalah beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk memperbaiki dan mencegah content decay, yaitu:

1. Lakukan Content Audit secara Rutin

Cara pertama yaitu lakukan content audit secara rutin. Kamu bisa lakukan ini tiap bulan atau dua bulan sekali.

Biasanya, content decay terlihat jelas dari artikel yang performanya turun selama 6–12 bulan terakhir.

Tapi aku pribadi udah biasa pasang warning kalau artikel mulai turun performa dalam 3 bulan, apalagi kalau barengan sama penurunan ranking.

Tujuannya? Biar bisa update lebih awal sebelum benar-benar kena content decay – bahkan kalau penyebabnya cuma off-season.

Hasilnya bisa beda-beda. Tapi yang penting: usaha dulu.

2. Kumpulin Referensi Konten dari Kompetitor

Setelah sudah tahu artikel mana saja yang dikasi perhatian khusus, kamu bisa cari referensi artikel dari kompetitor di SERP.

Sebaiknya pilih artikel yang masuk ke AI overview daripada yang hanya sekadar ranking 1 – karena SEO sudah mengalami pergeseran dari sekadar SEO ke GEO.

3. Identifikasi Kekurangan Kontenmu

Nah, kamu sudah punya referensi artikel yang perform. Sekarang tinggal bandingkan saja sama artikelmu dan identifikasi apa saja kekurangannya.

Apakah akurasi informasinya, relevansi, kedalaman topik, ataupun alur pembahasan.

4. Perbaiki Kontenmu

Kamu bisa perbaiki artikel berdasarkan kekurangan yang sudah kamu tahu sebelumnya.

Update informasi yang ada di artikel, pastikan isinya lebih lengkap, dan alur pembahasannya mudah dipahami audiens.

5. Pastikan Kontenmu Sudah Ada Internal Link

Selain informasi dan alur pembahasan, internal linking juga penting saat update konten. Pastikan internal link yang ada di kontenmu relevan dan bisa berfungsi dengan baik.

6. Hapus Artikel yang Gak Relevan

Di sebagian kasus audit konten, ada beberapa artikel yang pembahasannya benar-benar gak relevan dan gak ngasi kontribusi apa-apa ke website.

Nah, kalau misalnya kamu ngalamin ini, jangan ragu buat hapus artikel itu ya.

7. Promosi Artikel ke Media Sosial atau Backlink

Terakhir, jangan lupa promosikan kontenmu di media sosial ataupun lewat backlink berkualitas.

Ini bisa bikin kontenmu lebih mudah dijangkau audiens dan ningkatin kredibilitasnya di mata Google.

Konten Sudah Update, Tapi Performa Tetap Anjlok?

Mungkin kamu sekarang punya pertanyaan…

“Kalau konten sudah diupdate, tapi performanya tetap anjlok, gimana dong?”

Nah, kasus seperti ini mungkin banget terjadi di sebagian SEO specialist. Aku pun merasakannya.

Bahkan, ini terjadi sama artikel yang ngasi metriks terbanyak – ini ngedrop, metriks website pun juga ikutan ngedrop.

Kebetulan ini terjadi sama website berbahasa Inggris, jadi artikelnya bersaing di hasil pencarian US dan negara berbahasa Inggris lainnya.

Performa konten yang decay

Aku pun coba update artikel tersebut. Hasilnya? Selama 2-3 bulan berikutnya gak ada perubahan yang berarti.

Lalu, yang aku lakukan? Ya, biarkan artikel tersebut.

Yang penting aku sudah berusaha update dan sekarang lebih baik fokus ke ide artikel lain yang bisa dieksekusi.

Jadi, bisa saja ada kasus di mana artikel gak nunjukin perubahan yang berarti setelah update dan terus kena content decay. Makanya aku sempat bilang di section sebelumnya…

“Hasilnya bisa beda-beda. Tapi yang penting: usaha dulu.”

Karena ada banyak strategi yang bisa kamu eksekusi selain mencegah content decay.

Jadi, kalau kontenmu masih belum bangkit meski udah diupdate, jangan terlalu keras sama diri sendiri.

SEO itu proses panjang. Yang penting kamu gak berhenti belajar dan terus cari celah baru untuk berkembang.

Yuk, Perbaiki Konten yang “Decay” di Websitemu!

Ada kalanya 1-2 artikel yang performanya turun bisa ngaruh ke performa website secara keseluruhan. Hal itu bisa saja terjadi karena content decay.

Content decay itu hal yang wajar, bahkan bisa dibilang unavoidable kalau kamu sudah lama main di dunia SEO dan content marketing.

Justru itu sinyal kalau artikelmu perlu dirawat dan diupdate, bukan dibiarkan usang. Karena SEO bukan cuma soal bikin artikel baru, tapi juga soal ngejaga artikel lama supaya tetap relevan dan bermanfaat.

Bahkan, aku pribadi sudah beberapa kali ngalamin konten yang anjlok setelah berbulan-bulan perform. Tapi dari situ, aku belajar kalau SEO itu maraton, bukan sprint.

Jadi, kalau kamu mulai ngerasa ada konten yang performanya turun, jangan panik. Coba audit, evaluasi, dan eksekusi. Apapun hasilnya, lakukan saja.

Yuk, cek lagi artikel lama di websitemu. Siapa tahu, mereka cuma butuh diupdate supaya bisa perform lagi.

Frequently Asked Questions (FAQ)

Apa itu content decay?

Content decay adalah penurunan performa konten secara bertahap dan terus-menerus, baik dari sisi trafik, ranking, maupun engagement.

Kenapa content decay bisa terjadi?

Konten gak relevan lagi, ada perubahan algoritma Google, tren audiens berubah, atau bahkan masalah teknis kayak loading lambat atau broken links.

Apa bedanya content decay sama konten musiman?

Konten musiman emang wajar turun performanya di luar musimnya. Tapi content decay bisa terjadi pada konten evergreen.

Gimana cara tahu kalau kontenku kena content decay?

Lakukan content audit. Cek performa artikel 6–12 bulan terakhir. Kalau semua metrik turun terus, itu tanda content decay.

Gimana kalau artikel udah di-update tapi performanya tetap gak naik?

Kadang itu emang terjadi. Bisa jadi karena persaingan berat, tren turun, atau kontennya udah gak punya daya jual lagi. Mending fokus saja ke konten lain yang potensial.

Referensi

https://www.revou.co/kosakata/content-decay

https://www.searchenginejournal.com/what-is-content-decay/516194

https://contentwriters.com/blog/what-is-content-decay

https://www.elevenwriting.com/blog/how-to-identify-and-fix-content-decay

https://www.searchenginejournal.com/content-decay-and-refresh-strategies-to-maintain-site-relevancy/524723

Andi

Andi

Hi, nama saya I Putu Febrian Andira Putra, bisa dipanggil Andi – seorang SEO Specialist dengan pengalaman selama 2 tahun di berbagai niche. Saat ini bekerja sebagai SEO Specialist di FINNS Bali sekaligus sebagai pemilik website ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *